Perjuangan Palestina atas Nama Tanah Air dan Kehormatan Islam

PERJUANGAN  PALESTINA ATAS NAMA TANAH AIR & KEHORMATAN ISLAM

 

Perjuangan Palestina atas nama tanah air dan kehormatan islam ini ditulis Oleh Tg. DR. Miftah el-Banjary

Di dalam al-Qur’an, istilah Yahudi tidaklah disebutkan selain dalam konteks kecaman atau sejarah keburukan dan pembangkangan anak keturunan Israel atau Yahudza ini.

 

Bani Israel, Ibrani, Yahudi, Israel, maupun Zionis, istilah yang berbeda, namun essensinya hampir sama. Karakter dan perangai tabiat mereka yang suka berbuat kerusakan di muka bumi, licik, culas, jahat, suka mengusir penduduk lain, penjajah dan perusak kemakmuran bangsa lain telah diabadikan di dalam al-Qur’an dan akan tetap relevan sepanjang zaman.

 

Cukuplah al-Qur’an mengingatkan jangan lah kalian menjadikan Yahudi sebagai teman, sahabat atau mitra penolong.

 

Sejak masa Nabi Musa (kisaran 1700 SM), Nabi Dawud dan Sulaiman, hingga berdirinya Israel Raya di tahun 1948 oleh kelompok Zionis, menjadikan sejarah Yahudi selalu dipenuhi oleh sejarah kelam, genosida, pembantaian dan peperangan tanpa henti.

Baca Juga :   Larangan Makan Ketika Berenang

 

Mimpi membangun kembali Haikal Sulaiman yang mereka yakini sebagai arah baru kebangkitan kejayaan bangsa Yahudi menjadi ambisi Yahudi Zionis yang ingin kembali merebut tanah negeri Palestina dan mengusir penduduk bangsa Arab.

 

Haikal Sulaiman yang mereka yakini berdiri di atas Masjid al-Aqsha itulah yang sampai detik ini membuat mereka tetap bersemangat menggali terowongan di bawah Masjid yang pernah menjadi kiblat kaum muslimin.

 

Bagi orang Yahudi, Haikal Sulaiman yang dulunya diyakini sebagai tempat peribadatan bangsa Yahudi yang kemudian dihancurkan oleh Nabukadizer dari Babioliona merupakan simbol kejayaan bangsa Yahudi.

 

Haikal Sulaiman yang mereka yakini itu sesungguhnya tidak lebih dari Ilusi yang mereka yakini dari dongeng-dongeng Talmud; kitab yang mereka anggap suci dan bagian dari ajaran agama Yahudi.

 

Namun atas keyakinan ilusi itu, mereka tetap berambisi merobohkan Masjid Aqsha dan kembali membangun Haikal Sulaiman yang mereka yakini dulunya pernah dibangun diatasnya bangunan masjid itu.

 

Bagaimana pun penduduk Arab Palestina, tidak pernah merelakan bangunan suci itu diporak-porandakan. Mereka lebih memilih rumah-rumah mereka dihancurkan, mereka lebih memilih keluarga, anak-anak mereka, bahkan diri mereka yang terbunuh daripada harus menyerahkan Masjidil Aqsha kepada Zionis Yahudi.

Baca Juga :   Jadwal Acara Muslim United Jogjakarta

 

Inilah mengapa orang Palestina lebih bangga menggapai Syahid atas nama mempertahankan tanah air mereka serta mempertahankan Masjid kebanggaan umat Islam dunia tetap berdiri tegak, kukuh, meski mereka harus tumbang dan mati.

Perjuangan Palestina

“Iesy karieman atau mut syahidan”.

Hidup mulia atau mati syahid. Itulah semboyan akhir mereka yang menjadikan tetap bertahan meski rudal dan bom diarahkan ke arah mereka setiap saatnya.

Tg. DR. Miftah el-Banjary

 

Pict source : liputan 6

Total View 6,365 total views, Views Today 1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *