Menolak Takdir dengan Doa

Menolak takdir dengan doa? 

BISAKAH KITA MENOLAK TAKDIR DENGAN DOA?

oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Yang dapat menolak takdir hanyalah doa. Yang dapat menambah umur hanyalah amalan kebaikan.” [HR. Tirmidzi, no. 6 dalam Kitab Al-Qadr, Bab “Tidak Ada yang Menolak Takdir Kecuali Doa”)

Menolak takdir dengan Doa?

Yang dimaksud doa bisa menolak takdir terdapat dua makna:

▪Kalau seseorang tidak berdoa, maka takdirnya seperti itu saja.

▪Kalau seseorang berdoa, takdir akan dijalani dengan mudah. Yang terjadi seakan-akan takdir yang jelek itu tertolak.

 Hakikat umur manusia

Yang dimaksud umur tidaklah bertambah melainkan dengan kebaikan terdapat dua makna:

▪Kalau seseorang tidak melakukan kebaikan, maka umurnya pendek.

▪Kalau seseorang melakukan kebaikan, umurnya bertambah, yaitu bertambah berkah.

Jika dilihat dari pengertian di atas berarti umur bertambah bisa bermakna hakiki. Atau ada yang mengatakan bahwa makin banyak amalan kebaikan, makin bertambah umur. Sebagaimana pula makin sering memanjatkan doa, musibah akan terus tertolak.

Baca Juga :   Kisah hijrah : Menikmati hidup dengan kalkulator Allah yang luar biasa

Artinya yang disebutkan di atas, berarti Allah memberkahi umur. Apa maksud Allah memberkahi umurnya? Ia cukup beramal saleh dalam waktu yang singkat, di mana dengan WAKTU SEPERTI ITU, yang lainnya tidak bisa melakukan amalan yang banyak. Maksud kedua di sini, bertambah umur berarti bertambah secara majaz.

Faidah penting yang bisa diambil

▪Dorongan untuk memerbanyak kebaikan serta bersegera melakukan kebaikan dan sebab-sebabnya.

▪Amalan kebaikan menyebabkan umur bertambah, baik secara hakiki atau majazi.

▪Doa punya kedudukan yang begitu mulia. Segala sesuatu yang telah Allah takdirkan pada hamba berupa hal yang dibenci, dapat tertolak dan dipalingkan dengan doa, asalkan seseorang ikhlas dan benar dalam niat.

Semoga bermanfaat.

Referensi:

Arba’una Haditsan, Kullu Haditsin fii Khaslatain. Cetakan kedua, tahun 1421 H. Prof. Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan. Penerbit Dar Balansia.

_✍🏽 Muhammad Abduh Tuasikal_

Total View 50,445 total views, Views Today 1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *