matematika syawal ! penerjemahan pahala puasa sunnah enam hari bulan syawal

MATEMATIKA SYAWAL

 

Mungkin kita pernah bertanya-tanya bagaimana puasa yang dilakukan orang-orang mukmin sebelum umatnya Rasulullah. Sebagaimana disebut dalam surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa mereka juga mendapat perintah puasa.

Maka jawaban ini bisa kita dapatkan salah satunya dalam kitab Nasoihud Diniyah karangan Al-Imam Al-Haddad. Di sana dijelaskan yang dilakukan umat Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim adalah setahun penuh berpuasa, kemudian setahun penuh tidak puasa.

Adapun umatnya Nabi Daud adalah sehari puasa, kemudian hari berikutnya tak berpuasa. Ulama lain banyak menyebutkan aneka macam puasa yang dilakukan para Nabi dan Rasul yang berbeda lagi.

Namun, yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Haddad cukup menarik. Karena polanya hampir sama antara Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, maupun Nabi Daud, yaitu fifty-fifty atau 50% puasa dan 50% tidak.

Kalau pola seperti itu diterapkan saat ini, tentu kita akan mengalami kepayahan. Bayangkan saja jika harus seminggu puasa, kemudian seminggu tidak puasa. Atau sebulan puasa, disusul dengan bulan berikutnya tidak puasa.

Syukurlah Allah Maha Mengetahui kapasitas setiap hamba-Nya, maka kita hanya diwajibkan sebulan puasa, dan sebelas bulan tidak puasa. Atau dalam persentase berarti 8,3% puasa dan 91, 7% tidak.

Kebangetan kalau dengan komposisi demikian masih ada orang-orang yang keberatan berpuasa di bulan Ramadhan. Setuju?

Lantas akan muncul pertanyaan berikutnya bukankah umat Rasulullah ini akan dimuliakan di akhirat nanti? Bukankah umat ini akan menjadi umat yang paling unggul dibandingkan dengan yang lain? Dilihat dari faktor puasanya saja, sepertinya tidak mungkin?

Maka Allah kembali menunjukkan Kemurahan-Nya kepada umat ini. Diperintahkanlah umat ini untuk berpuasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Sebagaimana sabda Rasulullah,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”

(Hadist Riwayat Muslim)

Jika dengan tambahan puasa sunnah tersebut seolah-olah kita berpuasa setahun penuh, maka persentase yang kita peroleh akan menjadi 100% puasa dan 0% tidak.

Kebangetan banget kalau dengan komposisi demikian masih ada orang-orang yang keberatan berpuasa enam hari di bulan Syawal. Setuju?

Maka marilah kuatkan tekad untuk memenuhi hak bulan Syawal ini dengan berpuasa sunnah enam hari di dalamnya. Malu dong sama diri sendiri, masa sih yang kemarin puasa 30 hari bisa bersabar, kok sekarang cuma 6 hari saja gak bisa sabar.

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

sumber :

chrysna pamanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *